http://www.kajian.org/embed.php
Wednesday, November 5, 2008
Tuesday, November 4, 2008
Kuliah: Syarah Kitab Tauhid di Kajang
Kuliah: Kembara Ilmu Hadith

Tajuk: Kembara Ahli Hadith Silam - Satu Penelitian Ilmiah
Oleh: Ust Adlan Bin Abd. Aziz
Tarikh: 6 November 2008 (Khamis)
Masa: 8.00 malam
Tempat: Islamic Info And Services (IIS), Tingkat 5 (atas Saba Islamic Media), Jalan Setiawangsa 11, Taman Setiawangsa.
....Kita akan melihat dengan lebih dekat realiti sebenar 'Kembara Ahli Hadith Silam' dengan menumpukan kepada :
1- Bagaimana ia dilakukan,
2 - Kenapa ia dilakukan,
3- Faedah dan manfaat ilmiah,
4- Kepentingan aspek ini dalam kajian hadith moden.
Insya Allah...
Kenali Sejarah Ulama Silam, Hargai Sumbangan Mereka Untuk Islam...
SHAUM DAN BEKAL PERTANGGUNG JAWABAN DI AKHIRAT

SHAUM DAN BEKAL PERTANGGUNG JAWABAN DI AKHIRAT
September 3rd, 2008
Drs. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag.
Ramadhan telah menyediakan kesempatan bagi umat Islam di hadapan Tuhannya untuk meniti kehidupan yang lebih baik yaitu melalui puasa (shaum) sebagai bentuk riyadah (latihan spiritual), pendakian ruhani yang lebih agung. Shaum Ramadhan ibarat tangga spiritual yang telah tersusun anak-anak tangganya secara baik dan apik. Di antara anak-anak tangga itu adalah kebersihan dan keikhlasan niat, sikap defensif (imsak) terhadap perilaku dan pembicaraan yang jelek dan dusta, produktif beribadah shalat baik wajib maupun sunnat, banyak berdo’a, membangun kesadaran sosial (infaq, shadaqah dan zakat), membaca al-Qur’an dan beri’tikap di mesjid.
Pelaksanaan shaum bertujuan untuk mencapai derajat ketakwaan, yaitu agar umat Islam belajar melaksanakan apa yang diperintahkan dan menghindari perbuatan yang dilarang Allah SWT. karena itu, pencapaian derajat ketakwaan ditentukan oleh kemampuan menjaga diri dan meinternalisasikan sikap menahan (al-Imsak) yang tidak hanya menahan diri dari makan minum dan jima, tetapi menahan secara ekstra psikologis terhadap segala bentuk perbuatan dosa (munkar) dan tidak baik (fakhsya).
“Hai sekalian manusia, bertakwalah hanya kepada Tuhan-Mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu.” (Q.S. an-Nisa :1).
Ketakwaan merupakan alat kontrol yang paling efektif dan paling manjur bagi perbuatan dosa, karena itu ketakwaan melahirkan tanggung jawab (mas’uliyah, responsibility) seorang muslim baik terhadap dirinya, terhadap manusia dan terhadap Allah SWT. landasan tanggung jawab sebagaimana tertuang dalam firman Allah Q.S. At-Tahrim : 6:
“hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Kemudian hadits Nabi dari Ibnu Mas’ud bahwa nabi saw. Bersabda: “akan ada nanti orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan beberapa perkara yang kamu inkarinya, lalu para shahabat bertanya : “Ya Rasulullah gerangan apa yang tuan perintahkan kepada kami ? Nabi menjawab : Tunaikanlah apa yang menjadi kewajiban dan mintalah kepada Allah akan hakmu itu “. ( H.R. Bukhari).
Ketakwaan yang menjadi tujuan utama mengantarkan seorang muslim untuk mempersiapkan dirinya mencapai kebahagiaan baik kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Bagi muslim yang melaksanakan shaum akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu : “kebahagiaan di waktu berbuka puasa dan kebahagiaan di waktu pertemuannya dengan Allah SWT”.
Kebahagiaan pertemuan dengan Allah merupakan puncak prestasi dari nilai ketakwaan yang telah diinvestasikan seorang muslim lewat amal sholehnya, seperti dalam Q.S. al-kahfi : 110 :
“…Siapa yang berkeinginan untuk mendapatkan pertemuan dengan Allah, maka hendaklah melakukan perbuatan amal shaleh dan jangan sekali-kali berbuat syirik kepada Allah sedikit pun”.
Kebahagiaan di akhirat kelak tentu saja didapatkan setelah seorang muslim melakukan amal shaleh sebagai sebuah proses untuk mendapat derajat ketakwaan. Pertemuan dengan Allah di akhirat adalah dimensi teologis yang harus diimani oleh setiap muslim. Mengimani hari akhirat merupakan rukun iman yang kelima, dan setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya. Bagi mukmin yang takwa tidak akan menjadi hambatan dan beban yang berat, karena peristiwa nanti akan dijalani sebagai sebuah proses perjalanan spiritual yang pasti akan dialami. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di padang mahsyar. Setiap manusia akan menghadapi peristiwa tersebut dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini.
Pada hari itu yang akan bersaksi adalah tangan dan kaki manusia sedangkan mulutnya akan ditutup, “pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka ushakan.” (Yasin: 65) kemudian, nanti manusia akan diminta pertanggungjawaban atas semua amal perbuatannya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda : “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba ( menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang empat perkara, yaitu : umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan” (HR. al-Tirmizi dan al-Darimi). hadits ini menjelaskan tentang pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah untuk menjawab empat pertanyaan yang diajukan: pertama, umur. Umur adalah nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Bagi seorang muslim, umur menjadi sarana penting untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT., dan tidak dibenarkan umur manusia dipakai untuk maksiat dan berbuat kejahatan yang melanggar aturan Allah SWT.
Di antara umur kita yang digunakan untuk beribadah adalah silaturrahmi, yang merupakan ibadah sosial. Secara naluri, manusia sebagai makhluk bermasyarakat, memerlukan komunikasi yang mesra dengan sesamanya. Komunikasi itu merupakan proses awal terjadinya kerja sama. Dalam istilah agama Islam, komunikasi lebih populer dengan sebutan silaturrahmi. Muhammad bin Ismail al-Kahlani menjelaskan bahwa silaturrahmi berasal dari bahasa Arab yang artinya hubungan keluarga yang bertalian darah. Dari arti itu, lalu beralih ke arti lain, yaitu menghubungkan sesuatu yang memungkinkan terjadinya kebaikan serta menolak sesuatu yang akan menimbulkan keburukan dalam batas kemampuan.
Cakupan silaturrahmi itu begitu luas. Ia tidak hanya menyangkut keluarga yang bertalian darah, tetapi juga hubungan antara sesama manusia dan hubungan antara manusia dan alam sekitarnya. Dengan demikian, silaturrahmi itu ada bermacam-macam: (1), silaturrahmi dengan diri sendiri, (2), silaturrahmi dengan sesama manusia, (3), silaturrahmi dengan yang seagama, dan (4), silaturrahmi dengan alam sekitarnya.
Adapun tingkatan-tingkatan silaturrahmi adalah sebagai berikut : (1), berjabatan tangan (mushafahah). Tingkatan ini membwa manusia kepada sifat lapang dada (al-shafh) yang lahir dari sifat pemaaf (al-afw). Oleh karena itu, kata al-shafh dalam al-Qur’an biasanya didahului dengan kata al-afw seperti terlihat dalam surat al-Taghabun 64:14; al-Nur 24: 22; dan surat al-Maidah 5: 3 yang masing-masing berbunyi sebagai berikut :“Apabila kamu memaafkan dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah SWT. Maha Pengampun lagi maha penyayang” “Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada ! apakah kamu tidak hendak diampuni oleh Allah SWT.?.“Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (2), saling memberi nasihat (tausyiah). Nasihat diarahkan kepada perwujudan kebaikan dan penghilangan kemaksiatan demi terbinanya kehidupan yang aman dan sejahtera, sebab “agama itu adalah nasihat”. Tingkatan ini menimbulkan terciptanya suasana kritik (al-naqd) yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mereka tidak phobi dan anti terhadap kritik. Kritikan dijadikan sebagai saran dan masukan yang berharga menuju kemaslahatan. (3), saling bekerja sama dan tolong menolong (al-mu’awanah atau al-musa’adah). Silaturrahmi tingkat ini dilaksanakan setelah melalui tahapan-tahapan silaturrahmi sebelumnya. Ia memungkinkan terjadinya dialog antara sesama manusia dalam rangka pemecahan berbagai persoalan kehidupan. Proses dialog akan melahirkan sikap harga–menghargai dan hormat–menghormati yang pada gilirannya akan melahirkan suasana demokratis. (4), menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat munkar. Dalam al-Qur’an, Allah SWT. Berfirman: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.) dan mencegah dari yang munkar (segala perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah), merekalah orang-orang yang beuntung “. (Ali-Imran 3:104).
Adapun manfaat atau kebaikan bersilaturrahmi adalah seperti digambarkan dalam hadits Rasululah saw. Dari Abu Hurairah dan dikeluarkan oleh al Bukhari :“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menghubungkan tali kekeluargaan “ Pengertian luas rezeki dalam hadits di atas adalah bahwa rezeki yang diterima itu menimbulkan berkah, baik bagi diri, keluarganya maupun bagi manusia dan alam sekitarnya. Panjang umur, menurut sebagian pendapat, mempunyai arti kiasan (kinayat) yang maksudnya adalah bahwa umurnya itu sarat makna dan nilai. Pendapat lain mengatakan bahwa panjang umur itu mempunyai arti yang sesungguhnya (al-haqiqi), yaitu umurnya ditambah sesuai dengan kehendak dan kemahakuasaan Allah SWT.
Sebaliknya, keburukan tidak bersilaturrahmi atau memutuskan silaturrahmi adalah tertutupnya pintu syurga. Dengan kata lain, orang yang memutuskan tali silaturrahmi tidak akan memasuki surga kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan di akhirat. Nabi bersabda : “tidak akan masuk ke dalam syurga orang yang memutuskan tali persaudaraan” (Ibnu Hajar al-Asqalani, 330)
Kedua, ilmu, merupakan himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengujian dan dapat diterima oleh akal sehat, rasio atau dapat dinalar. ilmu menjadi penting bagi umat Islam karena akan menjadi ciri keunggulan umat Islam dari umat lainnya, “dan sesungguhnya telah kami pilih mereka atas ilmu pengetahuan di atas bangsa-bangsa seluruh dunia (Q.S. Ad-Dukhan: 32). Orang Islam yang berilmu berbeda amaliahnya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermu’amalah dan lain-lain. Seorang muslim diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar menuntut ilmu. Allah SWT berfirman : “ Apakah sama orang yang tahu (berilmu) dengan yang tidak berilmu “? (al-Zumar: 9).
Ayat ini mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama Islam wajib hukumnya atas setiap individu muslim, karena mengerjakan ibadah dan amalan shaleh tidak berdasarkan ilmunya akan ditolak (man amila amalan laesa alaihi amruna fahua radd), dan seperti dalam firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihtan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjabannya” (al-Isra’:36).
Muslim yang menguasai Ilmu harus sadar bahwa ia adalah orang yang sedang mendapat titipan (amanah) dari Allah SWT. karena, sesungguhnya semua ilmu itu adalah milik-Nya, sehingga muslim berkewajiban untuk mengamalkan ilmu dalam konteks ibadah untuk kemaslahatan manusia.
Ketiga, harta. Harta adalah sesuatu yang manusia cenderung kepadanya dan mungkin disimpan untuk waktu keperluan. Manusia akan cenderung kepada harta karena memiliki daya tarik tersendiri, sehingga perlu untuk disadarkan bahwa status harta adalah anugrah Allah yang harus disyukuri, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentingan mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20). Harta menjadi amanah Allah yang harus dipertanggung jawab oleh manusia sekaligus sebagai ujian yang harus diantisipasi, ”dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar”. (Q.S. Al-Anfal: 28)
Harta harus diusahakan dan dimiliki dengan cara yang bersih dan halal. Islam menghargai orang muslim yang bekerja keras, karena mencari rizki di dunia secara halal untuk menjauhkan diri dari jiwa pengemis, sebaliknya mencari harta yang haram akan mendapat kesengsaraan dan siksa, seperti sabda Rasulullah saw.: “Baransiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, mka neraka itu lebih patut baginya” (HR. Hakim). Sayiddina Umar bin al-Khattab berkata : “ janganlah seseorang dari kamu duduk bermalas-malasan dari mencari rizki seraya berkata : Ya Allah berikanlah rizki, sedangkan ia mengetahui bahwa langit tidak akan menghujankan emas dan perak.” Kemudian harta yang telah diusahakan dan dimiliki perlu dimanfaatkan bagi seluruh segi kehidupan manusia baik secara pribadi maupun bagi kepentingan masyarakat.
Al-Maraghi menjelaskan bahwa harta yang diperuntukkan kepentingan sosial masyarakat adalah berguna untuk mengatasi problem sosial ekonomi, karena menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan merupakan petunjuk kemasyarakatan yang terpenting, karena itu diwajibkan bagi muslim untuk menunaikan kewajiban zakat, infak maupun shadaqah. Dengan cara demikian kesulitan-kesulitan dan problem sosial akan dapat diatasi. Sasaran utama yang berhak mendapat bantuan yang bersumber dari zakat adalah 8 asnaf sebagaimana dalam Q.S. At-Taubah : 60: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat, muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.”
Jika harta dipakai untuk kepentingan kemaslahatan di dunia maupun di akhirat dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah SWT, maka seorang muslim akan mampu mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti.
Keempat, badan. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah yang dilengkapi oleh struktur tubuh yang sempurna ditambah anugrah yang tak ternilai yaitu hati dan akal fikiran. Kesempurnaan jasmani manusia semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Kedudukan manusia sebagai “duta” Allah SWT. akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT., tentang segala perbuatan yang dilakukan selama menjalani kehidupan di muka bumi ini, “ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. Kemudian manusia bertanya: “mengapa bumi jadi begini ?” pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka, (balasan) pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat atompun , misalnya dia akan melihat (balasan)-Nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat atompun, niscaya dia akan melihat (balasan)-Nya pula.” (al-Zalzalah:1-8).
Oleh karena itu, di padang mahsyar nanti seluruh manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas segala hidupnya di dunia. Jika pertanggungjawaban manusia ditolak maka ganjarannya adalah neraka, dan sebaliknya jika pertanggungjawabannya manusia diterima, maka jaminananya adalah syurga. Di dalam QS. Az-Zumar : 71,73 Allah berfirman : “ orang-orang kafir dibawa ke neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai di neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya :” apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini ?. mereka menjawab: benar (telah datang). Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang kafir.” Dan oarang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya di bawa ke dalam syurga berombog-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penbjaganya: “kesejahteraaan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masukilah syuga ini, sedang kamu kekal di dalmnya.”
Jika manusia menyadari akan kedudukannya sebagai hamba Allah SWT sekaligus khalifah Allah SWT di muka bumi ini, maka seluruh seluruh aktivitas yang berkaitan dengan umur, ilmu, harta dan badannya akan diabdikan untuk Allah SWT semata. Dengan melaksanakan syaum selama sebulan di bulan Ramadhan, kita sesungguhnya sedang melatih diri untuk mempersiapkan diri menghadapi empat pertanyaan tadi di alam mahsyar. Saum sebagai ibadah yang menuntut keseriusan dan perjuangan untuk mencapai tangga ruhani yang telah disediakan Allah SWT. mudah-mudahan kita berhasil mencapai puncak kesucian (fitri) dan termasuk orang-orang yang diridhai Allah SWT.
Taqabbala Allah minna wa minkum syiamana wa syiamakum. Wassalamu’alaikum wr.wb.
Wacana bersama wakil Muhammadiyah

APA ITU MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah adalah sebuah NGO Islam Indonesia yang berpegang kepada manhaj ahlus sunnah wal jamah. Ia satu NGO Islam yang besar. Berapa besar? Pegangan tanah wakafnya yang berjumlah 298081 km persegi adalah 90% jumlah keluasan Malaysia (330252km persegi)15% dari jumlah keluasan Indonesia (1919440km persegi) !
Di antara institusi-institusi pertubuhanyang berusia 96 tahun iniialah 6728 buah sekolah rendah3279 buah sekolah menengah166 buah maktab Dan universiti Dan 47 hospital am!!
Bagaimana Muhammadiyah boleh berkembang begitu pesat? Untuk mengetahui rahsia kejayaan ini Al-Nidaa’ mengundang 3 orang tokoh MuhammadiyahDr Haedar NashirHM Muchlas Abror Dan Drs Dahlan Rais ke Malaysia pada 6 -9 Nov 2008.
Ikuti penerangan mereka melalui program-program berikut:-
Tajuk - Wacana Muhammadiyah: Apa Yang Diperjuangkan?
Tarikh/Hari Masa Tempat
6 Nov (Khamis) 8.15mlm Pejabat Al-Nidaa’
Tajuk - Bengkel Muhammadiyah: Rahsia Kejayaannya
8 Nov (Sabtu) 10.00 pg – 4.00 ptg Pejabat Al-Nidaa’
Tajuk - Syarahan Umum Muhammadiyah: Pertubuhan Islam Luarbiasa
8 Nov (Sabtu) 8.30 mlm KGPA
Semua dijemput merebut peluang luarbiasa ini. Untuk sebarang pertanyaan hubungi 03-77106900 atau 012-2820244
Sunday, November 2, 2008
Wanita 'berpakaian telanjang' jangkiti Yaman


Setelah sekian lama menyewa rumah di luar, pada hari Jumaat minggu lalu (17 Oktober), saya kembali ke asrama pelajar Abu Luhum yang terletak di Jalan Sittin berhadapan Universiti Sana'a. Ketika pengajian tahun pertama dan kedua, di situlah tempat saya berteduh dan berlindung daripada kesejukan malam yang menggigit.
Menziarahi pelajar-pelajar di situ paling sesuai pada hari Jumaat kerana cuti dan tiada kuliah pengajian.
Khutbah Jumaat di situ kebiasaannya disampaikan oleh salah seorang ulama terkenal di sini iaitu Syeikh Hasan as-Syafie, pensyarah dalam bidang tafsir al-Quran di Universiti al-Iman dan cukup dikenali sebagai khatib yang berwibawa. Namun pada hari itu mungkin beliau masih bercuti. Maka mimbar Jumaat telah dinaiki oleh seorang pemuda yang tidak kurang lantangnya.
Isu yang dilontarkan kepada sidang jemaah pada minggu lalu adalah berkaitan pasca-Ramadan dan Aidilfitri. Juga disentuh tentang sikap kita terhadap agama Islam sebagai agama fitrah sebagaimana firman Allah SWT yang bermaksud: "Maka hadapkanlah dirimu (wahai Muhammad dan para pengikutmu) ke arah agama yang jauh daripada kesesatan; (ikutlah) agama ciptaan Allah, iaitu agama yang Allah fitrahkan manusia untuk menerimanya..." (Surah ar-Rum: 30).
Ditegaskan agar para jemaah beriltizam penuh dengan seluruh ajaran Islam setelah kita semua kembali kepada keadaan fitrah suci daripada dosa-dosa (hakikat Aidilfitri).
Dalam tempoh setengah jam khutbah yang disampaikan itu, ada satu 'point' yang saya sangat tertarik untuk mengulasnya. Khatib telah menyentuh tentang fesyen berpakaian yang digayakan oleh gadis-gadis Arab Yaman yang kini sedang menuju ke arah kefasadan. Apakah yang dimaksudkan dengan 'fasad' di sini? Adakah seperti gadis-gadis remaja Malaysia yang berpakaian seluar ketat atau singkat atau londeh mempamerkan jenama seluar dalam? Atau T-shirt singkat 'nampak pusat' atau sendat menampakkan bentuk dada? Atau mewarnakan rambut dengan 'kaler berkarat'?
Tidak sama sekali! Apa yang menjadi kebimbangan beliau ialah fesyen jubah yang berpotongan mengikut bentuk badan sudah mula menular. Sebelum ini jubah yang biasanya dipakai oleh Muslimah di Yaman ialah yang bersaiz longgar dan berwarna hitam atau gelap. Tudung mereka labuh sempurna menutup dada.
Lebih daripada itu, golongan wanita di Yaman keseluruhannya memakai niqab menutup wajah mereka ketika berada di luar rumah. Sekurang-kurangnya begitulah suasana yang pernah saya rasai pertama kali menjejakkan kaki ke Yaman lebih empat tahun lalu. Cuma baru setahun kebelakangan ini, golongan yang tidak berniqab ini semakin bertambah dan zahir dalam masyarakat. Saya tidak ingin membahaskan hukum memakai niqab ini dari sudut fekah. Kerana itu termasuk isu khilafiyah dan kolum ini hanyalah bingkisan santai bukan gelanggang ilmiah.
Yang menjadi subjek di sini ialah masyarakat Yaman memandang bahawa potongan jubah yang mengikut bentuk badan itu adalah satu jalan yang terbentang luas untuk menuju kepada kefasadan atau kerosakan dalam masyarakat (bagi orang Melayu pula, berbaju kebaya itu biasalah� dikira masih sopan dan 'tak berdosa' pun).
Telah ramai juga gadis-gadis Yaman yang melilit tudung mereka paras leher dan sekali gus menampakkan dada. Khutbah Jumaat juga memberi amaran tentang golongan ahli neraka yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. dalam satu hadis: "...dan orang-orang perempuan yang berpakaian (tetapi) bertelanjang, berjalan dengan bergaya (melenggang-lenggok), kepala-kepala mereka seperti bonggol-bonggol unta (mereka meninggikan gumpalan rambut mereka dengan berhias-hias), mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapati baunya..." (Sahih Muslim).
Begitulah keprihatinan dan kepekaan masyarakat Yaman pada isu-isu agama. Mereka tidak menunggu sehingga keadaan menjadi parah seperti di Mesir, Syria, Lubnan, Jordan dan negara-negara Arab yang lain. Sehingga keadaan wanita mereka benar-benar menyerupai apa yang digambarkan dalam hadis di atas. Sesungguhnya ini merupakan satu mukjizat Nabi s.a.w. Memang benar pada akhir zaman ini begitu ramai golongan wanita yang 'berpakaian telanjang'.
Para ulama memberikan beberapa definisi berkenaan maksud hadis ini. Antaranya adalah: Pertama, dikatakan mereka berpakaian daripada nikmat Allah tetapi 'bertelanjang' daripada mensyukurinya iaitu tidak bersyukur. Kedua, dikatakan ia membuka sebahagian anggota tubuhnya dan mendedahkannya secara zahir. Ketiga, dikatakan ia memakai pakaian yang nipis sehingga menampakkan warna kulitnya atau pakaian yang ketat menampakkan bentuk badannya.
Pada zaman ini, kita dapat melihat kebenaran yang dikhabarkan oleh Nabi s.a.w. dalam hadis ini. Barangkali agak sukar untuk digambarkan keadaan tersebut pada zaman itu. Kerana Nabi s.a.w. menyatakan dalam hadis yang sama: "...aku belum pernah melihat mereka ini." Ertinya pakaian seumpama itu belum ada pada zaman jahiliah Arab dan para sahabat juga tentu tidak dapat membayangkan keadaan tersebut. Berpakaian telanjang? Bagaimana boleh disatukan dua perkataan yang berlawan maksudnya ini?
Perkara ini memang sewajarnya dijadikan peringatan untuk masyarakat Yaman dan sebagai satu renungan untuk masyarakat Islam di Malaysia. Di tanah air kita, yang menyedihkan ialah golongan wanita ini mengaku diri sebagai Muslimah. Sama ada mereka berpakaian dengan mendedahkan terus anggota tubuh atau pun mereka mengenakan pakaian yang sempit dan ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh. Kedua-duanya adalah bertentangan dengan akhlak Islam di mana seorang Muslimah dituntut supaya menutup aurat dengan sempurna.
Sebahagiannya pula merasakan sudah memadai dengan memakai tudung atau menutup kepala itu sudah dikira menutup aurat. Mereka mendedahkan anggota tubuh yang lain seperti leher, dada, lengan, kaki atau berpakaian ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh seperti buah dada, pinggang, punggung, paha dan betis. Inilah yang dikatakan 'bertelanjang'!
Kejahilan adalah faktor utama yang menyebabkan mereka tak dapat memahami keutamaan dalam memelihara aurat. Sesungguhnya aurat yang zahir daripada anggota tubuh tersebut adalah lebih berperanan untuk menarik perhatian lelaki dan menaikkan nafsu syahwat berbanding dengan hanya menutup rambut atau kepala.
Perbuatan mendedahkan bahagian tubuh ini adalah lebih keji daripada mendedahkan rambut atau kepala. Bagaimanapun ini bukanlah hujah untuk membenarkan golongan wanita mendedahkan rambut atau bahagian kepalanya serta memperlekehkan wanita lain yang bertudung. Jumhur ulama berpendapat kesemua anggota tubuh perempuan adalah aurat dan wajib ditutup kecuali bahagian muka dan dua telapak tangan.
Dipetik www.al-ahkam.net
JADILAH PENYEBAB HIDAYAH, BUKAN PENYEBAR DHALALAH

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Maksudnya:
Sesiapa yang mengajak manusia ke jalan hidayah (kebenaran), dia akan memperolehi ganjarannya seperti ganjaran orang-orang yang mengikutinya. Tidak dikurangkan sedikit pun daripada ganjaran pahala mereka. Dan sesiapa yang mengajak manusia ke jalan kesesatan, maka dia akan memperolehi dosanya seperti dosa orang-orang yang mengikutinya dengan tidak dikurangkan sedikit pun daripada dosa mereka.
(Hadith riwayat Muslim – no.6980)
Huraian:
1- Konsep ganjaran dosa dan pahala adalah merupakan antara perkara asas dalam ajaran Islam. Keimanan kita kepada ganjaran sebegini akan menjadi benteng kukuh untuk menghalang manusia daripada melakukan perkara-perkara yang dimurkai Allah SWT.
2- Konsep ganjaran pahala juga menjadi asas utama dalam membina jiwa muslim yang akan tetap terus mengamalkan perkara kebaikan walaupun tidak melihat ganjaran kebendaan di dunia ini.
3- Kewajipan mengajak manusia kepada kebenaran adalah kewajipan seluruh umat dan sebaik-baik manusia yang menjalankan tanggungjawab ini adalah para Nabi dan Rasul ‘ a.s. Walaupun menerima tentangan dan cabaran, tugas itu tetap digalas berbekalkan slogan yang disebutkan di dalam Al-Quran, Surah Yunus ayat 72 yang bermaksud:
"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun dari padamu. upahku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku disuruh supaya aku termasuk dalam golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)".
4- Telah menjadi lumrah alam yang diciptakan Allah SWT apabila adanya pendakwah atau orang yang menyeru kepada kebenaran, pasti akan ada segolongan pendakwah yang berlawanan iaitu orang yang menyeru kepada kesesatan dan mengajak manusia meninggalkan agama. Firman Allah SWT di dalam Al-Quran, surah al-Taghabun ayat 2 yang bermaksud:
"Dialah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. "
5- Rasulullah SAW menerangkan di dalam hadith yang ringkas ini bagaimana seseorang yang menjadi sebab kepada orang lain mendapat hidayah akan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Ganjaran itu bukan sekadar ganjaran hasil dakwahnya, malah ganjaran itu ditambah pula dengan ganjaran hasil amalan orang yang menerima dakwahnya. Inilah rahmat Allah SWT terhadap seorang pendakwah yang menjadi penyebab kepada tersebarnya petunjuk dalam kalangan manusia. Namun, Allah SWT tidak akan mengurangkan ganjaran yang diperolehi oleh mereka yang beramal. Segalanya adalah adil dan saksama malah dilipat gandakan lagi oleh Allah SWT.
6- Rasulullah SWT juga memberitahu bahawa Allah SWT menyediakan balasan dosa untuk orang yang mengajak orang lain melakukan perkara-perkara yang salah dan dilarang oleh Islam. Malah dosanya itu digandakan dengan dirinya juga menanggung dosa orang-orang yang disesatkannya. Inilah ganjaran setimpal kerana dirinya menjadi penyebab ramainya pelaku dosa. Namun begitu, dosa orang-orang itu tidak akan dikurangkan dan mereka semuanya akan menanggung dosa berdasarkan amalan masing-masing. Itulah keadilan Allah SWT.
7- Marilah kita berusaha untuk menjadi penyebab kepada hidayah dengan apa cara sekalipun dan bukan pula penyebar kesesatan dan dosa. Kalau di dunia ini kita mahu keuntungan berlipat ganda dalam bentuk wang dan harta, maka sepatutnya kita juga mahukan keuntungan akhirat yang berlipat ganda dalam bentuk ganjaran pahala dan keredhaan Allah SWT.
Dipetik dari www.al-ahkam.net
Subscribe to:
Posts (Atom)
